Umat yang Suka Damai MEMBELA NAMA BAIK MEREKA
PADA Desember 2009 dan Januari 2010, dua pengadilan tertinggi di Rusia
menyatakan agama Saksi-Saksi Yehuwa sebagai kepercayaan yang ekstrem.
Sejarah tampaknya berulang. Dahulu, ketika Rusia dikuasai Soviet, ribuan
Saksi difitnah sebagai musuh negara. Mereka diasingkan, dijebloskan ke
penjara dan kamp kerja paksa.
Setelah rezim itu runtuh, Saksi-Saksi
Yehuwa dibebaskan. Pemerintah yang baru secara resmi memulihkan nama
baik mereka. Sekarang, sekali lagi, beberapa orang tampaknya berupaya
keras untuk memfitnah para Saksi.
Pada awal 2009, kalangan
berwenang melancarkan serangan terhadap kebebasan beragama Saksi-Saksi
Yehuwa Pada bulan Februari saja, para penyidik melakukan lebih dari 500
investigasi di negeri itu.
Apa tujuan aksi ini?
Untuk
mencari-cari bukti bahwa para Saksi melakukan pelanggaran hukum. Pada
bulan-bulan berikutnya, polisi menggerebek pertemuan-pertemuan ibadat
yang dengan penuh damai diadakan di Balai Kerajaan dan di rumah-rumah.
Mereka menyita bacaan rohani dan barang milik pribadi. Kalangan
berwenang mendeportasi para penasihat hukum dari luar negeri yang turut
membela para Saksi dan melarang mereka masuk kembali ke Rusia.
Pada 5 Oktober 2009, pihak bea cukai menahan kiriman bacaan rohani di
perbatasan dekat St. Petersburg. Bacaan berdasarkan Alkitab itu dicetak
di Jerman untuk sidang-sidang jemaat di Rusia yang banyak jumlahnya.
Sebuah unit bea cukai Rusia yang khusus menangani barang selundupan
berbahaya memeriksa kiriman tersebut. Mengapa? Menurut sebuah dokumen
resmi, kiriman itu ”mungkin berisi bacaan yang bertujuan menyulut
konflik keagamaan”.
Rongrongan demi rongrongan ini segera
mencapai titik kritis. Mahkamah Agung di Federasi Rusia dan di Republik
Altay (bagian dari Rusia) memutuskan bahwa sejumlah publikasi Saksi,
termasuk majalah yang ada di tangan Anda, adalah bacaan ekstrem.
Saksi-Saksi Yehuwa mengajukan banding, dan masyarakat internasional
menyatakan keprihatinan—tetapi tidak berhasil! Keputusan itu tetap
berlaku, sehingga mengimpor atau mengedarkan publikasi berdasarkan
Alkitab tersebut dianggap ilegal di Rusia.
Bagaimana tanggapan para Saksi atas upaya-upaya untuk mencoreng reputasi mereka dan untuk membatasi kegiatan mereka?
Dan, apa artinya keputusan itu bagi kebebasan beragama semua warga Rusia?
Ancaman yang Kian Meningkat Segera Ditanggapi
Pada Jumat, 26 Februari 2010, sekitar 160.000 Saksi Yehuwa di seluruh
Rusia mulai menyebarkan 12 juta lembar risalah khusus yang, bila
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berjudul " Mungkinkah Ini
Terulang Kembali? Pertanyaan untuk Warga Rusia".
Di kota
Usol’yeSibirskoye di Siberia, misalnya, ratusan Saksi berkumpul di
jalan-jalan pada pukul 05.30 pagi. Di antara mereka ada juga yang pernah
diasingkan ke Siberia pada 1951 karena iman. Mereka tidak gentar
menghadapi suhu sedingin minus-40 derajat Celcius untuk menyebarkan
20.000 risalah.
Guna mengumumkan kampanye tiga hari itu,
Saksi-Saksi Yehuwa mengadakan konferensi pers di Moskwa, ibu kota Rusia.
Salah satu pembicara yang diundang adalah Tn. Lev Levinson, seorang
pakar dari Lembaga Hak Asasi Manusia.
Ia dengan singkat
menceritakan rongrongan dan penganiayaan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa di
Jerman Nazi serta Uni Soviet dan bahwa belakangan para Saksi secara
resmi dinya- takan bebas murni.
Ia juga mengatakan, ”Semua agama
yang ditindas selama era Soviet mendapatkan kembali nama baik mereka
berdasarkan dekret Presiden Yeltsin. Dan, segala milik mereka
dikembalikan. Saksi-Saksi Yehuwa tidak mempunyai properti tertentu di
bawah pemerintahan Uni Soviet, tetapi mereka mendapatkan kembali nama
baik mereka.”
Nama baik itu sekali lagi terancam.
”Justru
di negeri yang telah menyatakan penyesalannya,” kata Tn. Levinson,
”orang-orang ini dianiaya, sama sekali tanpa alasan.”
Kampanye Itu Disambut Baik
Apakah kampanye penyebaran risalah itu mencapai tujuannya? Tn. Levinson
mengatakan, ”Dalam perjalanan ke konferensi [pers] ini, saya melihat
orang-orang di kereta api duduk dan membaca selebaran kecil yang
disebarkan Saksi- Saksi Yehuwa di seluruh Rusia hari ini. . . . Mereka
duduk dan membacanya, dan dengan penuh perhatian.”* Simaklah beberapa
pengalaman berikut.
Seorang wanita lansia di bagian tengah
Rusia, yang mayoritas penduduknya Muslim, menerima sebuah risalah dan
bertanya tentang isinya. Ketika diberi tahu bahwa risalah itu membahas
tentang hak asasi dan kebebasan di Rusia, ia berseru, ”Akhirnya, ada
yang bicara tentang masalah ini! Memang, Rusia sedang mundur lagi ke
zaman Uni Soviet. Terima kasih, ya. Bagus sekali!”
Seorang
wanita di Chelyabinsk yang ditawari risalah mengatakan, ”Saya sudah
dapat satu dan sudah membacanya. Saya setuju sekali dengan kalian.
Rasanya, tidak ada agama lain yang membela imannya dengan begitu
teratur. Saya suka kalian karena selalu rapi dan santun. Jelas kalian
memegang teguh keyakinan kalian. Saya rasa, Tuhan menyertai kalian.”
Di St. Petersburg, seorang pria mengatakan sudah menerima risalah itu.
Ketika ditanya pendapatnya, ia menjawab bahwa ia menyukainya, dan
mengatakan, ”Saya merinding, bahkan menangis, sewaktu membacanya. Nenek
saya mengalami penindasan [pada era Soviet] dan banyak bercerita tentang
orang-orang yang dipenjarakan bersamanya. Banyak yang memang penjahat,
tapi ada juga orang-orang tak bersalah yang dipenjarakan karena iman
mereka. Menurut saya, setiap orang perlu tahu apa yang terjadi. Apa yang
kalian lakukan ini benar.”
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Saksi-Saksi Yehuwa menghargai kebebasan yang mereka nikmati di Rusia
selama dua puluh tahun terakhir ini. Tetapi, mereka tahu betul betapa
mudahnya kebebasan tersebut bisa dirampas. Apakah serangan fitnah
terhadap mereka baru-baru ini menunjukkan bahwa Rusia akan kembali ke
masa penindasan yang kelam? Kita hanya bisa menunggu.
Tetapi
apa pun yang terjadi, Saksi-Saksi Yehuwa bertekad bulat untuk terus
melakukan pekerjaan mereka, yaitu menyampaikan berita Alkitab tentang
perdamaian dan harapan.
Risalah khusus itu menyatakan tekad mereka,
”Penindasan tidak akan pernah berhasil. Kami akan terus berbicara
dengan bijaksana dan penuh respek tentang Allah Yehuwa dan Firman-Nya,
Alkitab. (1 Petrus 3:15)
Kami tidak berhenti ketika menghadapi
kengerian di Jerman Nazi, kami tidak berhenti ketika mengalami hari-hari
penindasan yang paling gelap di negeri ini, dan sekarang pun kami tidak
akan berhenti.
—Kisah 4:18-20.”
* Beberapa jam sebelum konferensi pers itu, Saksi-Saksi Yehuwa di Moskwa sudah mulai menyebarkan risalah itu.
--------
Diambil dari:
majalah-menara-pengawal, mei 2011
Umat yang Suka Damai MEMBELA NAMA BAIK MEREKA
Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
Publikasi-publikasi ini tidak diperjualbelikan, dan disediakan sebagai
bagian dari pekerjaan pendidikan rohani sedunia. Anda dapat memilikinya
secara CUMA-CUMA dalam bentuk cetakan-berwarna, format-pdf, atau
dibaca-online
Untuk mengetahui lebih banyak nasihat Alkitab
yang praktis, silakan hubungi Saksi-Saksi Yehuwa di daerah Anda. Atau,
Anda dapat menulis ke alamat yang cocok atau mengunjungi situs resmi
kami http://www.watchtower.org/
SEBUAH PERCAKAPAN SINGKAT
Apakah Yesus Itu Allah?
SAKSI-SAKSI
YEHUWA senang membahas Alkitab dengan orang lain. Adakah suatu topik
Alkitab yang belum jelas bagi Anda? Apakah Anda ingin mengetahui
kepercayaan dan ibadat Saksi-Saksi Yehuwa? Kalau begitu, kali berikut
Anda bertemu dengan Saksi, jangan ragu untuk menanyakannya. Ia akan
senang membahasnya dengan Anda.
--------------
Biasanya seperti inilah percakapannya. Katakanlah Saksi bernama Karen mendatangi rumah seorang wanita bernama Laura.
Benarkah Saksi Yehuwa Tidak Percaya kepada Yesus?
Laura: Kata pastor saya, Saksi Yehuwa tidak percaya kepada Yesus. Apa benar?
Karen: Sebenarnya, kami percaya kepada Yesus. Malah, kami percaya bahwa kita harus beriman kepada Yesus agar selamat.
Laura: Saya percaya itu juga.
Karen: Kalau begitu, kita sama. Ngomong- ngomong, nama saya Karen.
Laura: Saya Laura.
Karen:
Senang bisa berkenalan. Mungkin, Laura ingin tahu, ’Kalau Saksi Yehuwa
memang percaya kepada Yesus, kenapa orang-orang mengatakan yang
sebaliknya?’
Laura: Iya, kenapa tuh?
Karen: Singkatnya, kami sangat beriman kepada Yesus, tapi kami tidak percaya semua yang dikatakan orang tentang dia.
Laura: Misalnya apa?
Karen: Ya, ada yang bilang bahwa Yesus itu sekadar orang baik. Kami tidak setuju dengan itu.
Laura: Saya juga tidak setuju.
Karen: Nah,
kalau begitu, dalam hal ini kita juga sama. Contoh lain, Saksi Yehuwa
tidak menyetujui ajaran yang bertentangan dengan kata-kata Yesus sendiri
tentang hubungan dia dan Bapaknya.
Laura: Maksudnya?
Karen: Banyak agama mengajarkan bahwa Yesus itu Allah. Mungkin itu juga yang pernah Laura dengar.
Laura: Betul, pastor saya bilang Allah dan Yesus itu sama.
Karen: Oh, begitu. Tapi, setuju tidak, bahwa untuk tahu yang benar tentang Yesus, kita harus memeriksa kata-kata Yesus sendiri?
Laura: Ya, saya setuju.
Apa Kata Yesus?
Karen: Mari kita lihat sebuah ayat yang bisa membantu kita. Perhatikan kata-kata Yesus di Yohanes 6:38, yang berbunyi, ”Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendakku, melainkan kehendak dia yang mengutus aku.” Nah, kalau Yesus itu Allah, kata-kata ini akan sedikit membingungkan.
Laura: Maksudnya?
Karen: Perhatikan, Yesus turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak dia sendiri.
Laura: Benar, ia bilang ia datang untuk melakukan kehendak Dia yang mengutusnya.
Karen: Tapi, kalau Yesus itu Allah, siapa yang mengutus dia untuk turun dari surga? Dan, kenapa Yesus mau mematuhi Pribadi itu?
Laura: Iya ya, saya mulai mengerti. Tapi, saya belum yakin kalau hanya dari satu ayat ini.
Karen:
Kalau begitu, perhatikan apa yang Yesus katakan di kesempatan lain. Ia
membuat pernyataan serupa di pasal berikutnya. Boleh tolong bacakan
Yohanes 7:16?
Laura: Boleh. ”Yesus menjawab
mereka dengan mengatakan, ’Apa yang aku ajarkan bukanlah milikku,
melainkan milik dia yang telah mengutus aku.’ ”
Karen: Terima kasih. Menurut ayat ini, apakah ajaran Yesus berasal dari pemikirannya sendiri?
Laura: Tidak, ajaran Yesus berasal dari Dia yang telah mengutusnya.
Karen:
Betul. Nah, sekarang pertanyaannya, ’Siapa yang mengutus Yesus? Dan,
dari siapa Yesus mendapatkan hal-hal yang ia ajarkan?’ Bukankah Pribadi
itu lebih besar daripada Yesus? Biasanya, yang mengutus lebih tinggi
daripada yang diutus.
Laura: Menarik juga, ya. Saya belum pernah baca ayat ini.
Karen: Simak juga kata-kata Yesus di Yohanes 14:28, ”Kamu
telah mendengar bahwa aku mengatakan kepadamu: Aku akan pergi dan aku
akan datang kembali kepadamu. Jika kamu mengasihi aku, kamu akan
bersukacita bahwa aku akan pergi kepada Bapak, karena Bapak lebih besar
daripada aku.” Menurut ayat ini, bagaimana Yesus memandang dirinya dibandingkan dengan Bapaknya?
Laura: Dikatakan ”Bapak lebih besar daripada aku”, berarti Yesus memandang Allah lebih tinggi.
Karen: Benar sekali. Contoh lain, perhatikan apa yang Yesus katakan kepada murid-muridnya di Matius 28:18. Di situ dikatakan, ”Semua wewenang di surga dan di bumi telah diberikan kepadaku.” Jadi, apakah menurut Yesus ia sudah memiliki semua wewenang itu sejak awal?
Laura: Tidak, ia mengatakan bahwa itu diberikan kepadanya.
Karen: Tapi, kalau Yesus itu Allah, bagaimana mungkin ia diberi lebih banyak wewenang? Dan, siapa yang memberikannya?
Laura: Wah, saya baru terpikir soal itu.
Kepada Siapa Ia Berbicara?
Karen: Ada hal lain lagi yang agak membingungkan seandainya Yesus itu Allah.
Laura: Apa itu?
Karen: Kisah pembaptisan Yesus. Coba kita baca di Lukas 3:21, 22. Boleh tolong bacakan?
Laura: ”Sewaktu
semua orang itu dibaptis, Yesus juga dibaptis dan, seraya ia berdoa,
langit terbuka dan roh kudus dalam bentuk jasmani seperti seekor merpati
turun ke atasnya, dan suatu suara keluar dari langit, ’Engkaulah
Putraku, yang kukasihi; aku berkenan kepadamu.’ ”
Karen: Apa yang Yesus lakukan sewaktu ia dibaptis?
Laura: Ia berdoa.
Karen: Kalau begitu, kita jadi bertanya-tanya, ’Jika Yesus itu Allah, kepada siapa ia berdoa?’
Laura: Kepada siapa, ya? Wah, saya harus tanya pastor saya dulu.
Karen: Selain itu, setelah Yesus keluar dari air, ada Pribadi yang berbicara dari surga. Apa yang Ia katakan?
Laura: Yesus adalah Putra-Nya, Ia mengasihi Yesus, dan Ia berkenan kepadanya.
Karen: Benar. Tapi, jika Yesus adalah Allah, siapa yang berbicara dari surga?
Laura: Wah, saya belum pernah berpikir sampai ke situ.
Mengapa Disebut ”Bapak” dan ”Putra”?
Karen:
Ada hal lain lagi yang bisa kita pertimbangkan: Kita membaca bahwa
Yesus menyebut Allah sebagai Bapak surgawinya. Dan, sewaktu Yesus
dibaptis, suatu suara dari surga menyebut Yesus sebagai Putra-Nya.
Malah, Yesus jelas-jelas menyebut dirinya Putra Allah.
Nah,
seandainya Laura mau membuktikan bahwa dua orang setara kedudukannya,
ilustrasi apa tentang hubungan keluarga yang akan Laura gunakan?
Laura: Mungkin ilustrasi tentang dua bersaudara.
Karen:
Persis—bahkan mungkin saudara kembar. Tapi, Yesus menyebut Allah
sebagai Bapak dan dirinya sebagai Putra. Jadi, apa yang ingin Yesus
gambarkan?
Laura: Ya, saya mengerti. Yesus menggambarkan bahwa pribadi yang satu lebih tua dan lebih berkuasa.
Karen:
Tepat sekali. Coba pikirkan: Kita saja bisa membuat ilustrasi yang
cocok mengenai kesetaraan, yaitu tentang dua bersaudara atau saudara
kembar. Seandainya Yesus setara dengan Allah, bukankah ia, sebagai guru
yang hebat, pasti akan menggunakan ilustrasi yang sama, atau bahkan yang
lebih jelas lagi?
Laura: Iya, ya.
Karen: Tetapi, ia malah menggunakan istilah ”Bapak” dan ”Putra” untuk menggambarkan hubungan dia dengan Allah.
Laura: Menarik juga, ya.
Apa Kata Para Pengikut Yesus Masa Awal?
Karen: Sebelum saya pergi, saya ingin membahas satu hal lagi, kalau Laura punya waktu.
Laura: Oh, ya, silakan.
Karen: Jika Yesus benar-benar Allah, murid-murid Yesus pasti akan mengatakannya, bukan?
Laura: Sepertinya begitu.
Karen:
Tapi, tidak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa mereka mengajarkan
hal itu. Sebaliknya, perhatikan apa yang ditulis oleh rasul Paulus,
salah seorang pengikut Yesus masa awal. Di Filipi 2:9, ia menjelaskan
apa yang Allah lakukan setelah kematian dan kebangkitan Yesus,
”Allah meninggikan dia [Yesus] kepada kedudukan yang lebih tinggi dan
dengan baik hati memberinya nama di atas setiap nama lain.” Menurut ayat ini, apa yang Allah lakukan kepada Yesus?
Laura: Allah meninggikan dia kepada kedudukan yang lebih tinggi.
Karen:
Ya. Tapi, kalau Yesus setara dengan Allah sebelum ia mati, dan
belakangan Allah meninggikan dia kepada kedudukan yang lebih tinggi,
berarti kedudukan Yesus menjadi lebih tinggi daripada Allah. Apakah ada
yang bisa lebih tinggi daripada Allah?
Laura: Tidak ada. Itu mustahil.
Karen: Saya setuju. Jadi, berdasarkan semua bukti ini, apakah menurut Laura Alkitab mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah?
Laura: Kelihatannya tidak. Menurut Alkitab, dia Putra Allah.
Karen: Benar.
Tapi yang pasti, Saksi Yehuwa sangat menghormati Yesus. Kami percaya
bah- wa karena Yesus mati sebagai Mesias yang dijanjikan, semua orang
yang beriman bisa selamat.
Laura: Saya juga percaya.
Karen: Kalau begitu, ada pertanyaan lain, ’Bagaimana caranya memperlihatkan rasa syukur karena ia telah mati bagi kita?’ ##
Laura: Ya, saya ingin tahu juga.
Karen: Mungkin saya bisa datang lagi dan membahas jawabannya dari Alkitab. Apakah kita bisa bertemu lagi minggu depan?
Laura: Boleh, saya ada di rumah.
Karen: Kalau begitu, sampai jumpa yaa.
## Untuk keterangan lebih lanjut, lihat pasal 5 buku "Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan?"
------------------------
Diambil dari:
Majalah-MENARA-PENGAWAL , april 2012 ,
Rata-rata Pencetakan : 42.182.000 dalam 194 Bahasa
Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa
Bahkan
dalam dunia yang penuh kesukaran ini, Anda dapat memperoleh kebahagiaan
dari pengetahuan Alkitab yang saksama tentang Allah, Kerajaan-Nya, dan
maksud-tujuanNya yang menakjubkan bagi umat manusia.
Jika Anda
ingin menerima penjelasan lebih lanjut atau mendapatkan pelajaran
Alkitab secara cuma-cuma, silakan tulis surat kepada Saksi-Saksi Yehuwa, PO Box 2105, Jakarta 10001. Atau, Anda dapat menulis ke alamat yang cocok http://www.watchtower.org/address/article_01.htm atau mengunjungi situs resmi kami http://www.watchtower.org/
Publikasi
ini tidak diperjualbelikan, dan disediakan sebagai bagian dari
pekerjaan pendidikan rohani sedunia. Anda dapat memperolehnya CUMA-CUMA
dalam bentuk cetakan-berwarna, format-pdf, atau dibaca-online

Dapatkah Allah yang Benar Ditemukan?
- Sepanjang sejarah, banyak orang mencari Allah yang benar. Pencarian
itu telah membawa mereka ke banyak jalan, sebagaimana dibuktikan oleh
keanekaragaman agama, sekte, dan kultus di dunia dewasa ini. Tetapi,
bagaimana Anda dapat menemukan Allah yang benar?
Buku "Pencarian Manusia akan Allah" dapat membantu Anda.
Seorang penulis terkenal di Meksiko menyatakan, ”Dibanding kebanyakan
buku, buku ini kecil, tetapi yang luar biasa hebat adalah isinya. Buku
ini dapat ditaruh di saku seseorang, tetapi jika buku ini terdapat di
sebuah perpustakaan yang berkapasitas 90.000 buku, kemungkinan ini
adalah buku paling penting dari semua buku lainnya.”
Anda bisa meminta buku setebal 384 halaman ini dengan mengisi kupon
terlampir dan mengirimkannya ke alamat yang cocok yang tertera di
halaman majalah ini. Atau, Anda dapat menulis ke alamat yang cocok http://www.watchtower.org/address/article_01.htm atau mengunjungi situs resmi kami http://www.watchtower.org/
----------------
Diambil dari:
Majalah -SEDARLAH! , april 2012
Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa
Bahkan dalam dunia yang penuh kesukaran ini, Anda dapat memperoleh
kebahagiaan dari pengetahuan Alkitab yang saksama tentang Allah,
Kerajaan-Nya, dan maksud-tujuanNya yang menakjubkan bagi umat manusia.
Jika Anda ingin menerima penjelasan lebih lanjut atau silakan tulis surat kepada Saksi-Saksi Yehuwa, PO Box 2105, Jakarta 10001
Publikasi ini tidak diperjualbelikan, dan disediakan sebagai bagian dari
pekerjaan pendidikan rohani sedunia. Anda dapat memperolehnya CUMA-CUMA
dalam bentuk cetakan-berwarna, format-pdf, atau dibaca-online