Posted by : Suria - Pontianak Bersinar

Selasa, 08 Mei 2012


Umat yang Suka Damai MEMBELA NAMA BAIK MEREKA





PADA Desember 2009 dan Januari 2010, dua pengadilan tertinggi di Rusia menyatakan agama Saksi-Saksi Yehuwa sebagai kepercayaan yang ekstrem. Sejarah tampaknya berulang. Dahulu, ketika Rusia dikuasai Soviet, ribuan Saksi difitnah sebagai musuh negara. Mereka diasingkan, dijebloskan ke penjara dan kamp kerja paksa.
Setelah rezim itu runtuh, Saksi-Saksi Yehuwa dibebaskan. Pemerintah yang baru secara resmi memulihkan nama baik mereka. Sekarang, sekali lagi, beberapa orang tampaknya berupaya keras untuk memfitnah para Saksi.

Pada awal 2009, kalangan berwenang melancarkan serangan terhadap kebebasan beragama Saksi-Saksi Yehuwa Pada bulan Februari saja, para penyidik melakukan lebih dari 500 investigasi di negeri itu.
Apa tujuan aksi ini?
Untuk mencari-cari bukti bahwa para Saksi melakukan pelanggaran hukum. Pada bulan-bulan berikutnya, polisi menggerebek pertemuan-pertemuan ibadat yang dengan penuh damai diadakan di Balai Kerajaan dan di rumah-rumah. Mereka menyita bacaan rohani dan barang milik pribadi. Kalangan berwenang mendeportasi para penasihat hukum dari luar negeri yang turut membela para Saksi dan melarang mereka masuk kembali ke Rusia.

Pada 5 Oktober 2009, pihak bea cukai menahan kiriman bacaan rohani di perbatasan dekat St. Petersburg. Bacaan berdasarkan Alkitab itu dicetak di Jerman untuk sidang-sidang jemaat di Rusia yang banyak jumlahnya.
Sebuah unit bea cukai Rusia yang khusus menangani barang selundupan berbahaya memeriksa kiriman tersebut. Mengapa? Menurut sebuah dokumen resmi, kiriman itu ”mungkin berisi bacaan yang bertujuan menyulut konflik keagamaan”.

Rongrongan demi rongrongan ini segera mencapai titik kritis. Mahkamah Agung di Federasi Rusia dan di Republik Altay (bagian dari Rusia) memutuskan bahwa sejumlah publikasi Saksi, termasuk majalah yang ada di tangan Anda, adalah bacaan ekstrem. Saksi-Saksi Yehuwa mengajukan banding, dan masyarakat internasional menyatakan keprihatinan—tetapi tidak berhasil! Keputusan itu tetap berlaku, sehingga mengimpor atau mengedarkan publikasi berdasarkan Alkitab tersebut dianggap ilegal di Rusia.

Bagaimana tanggapan para Saksi atas upaya-upaya untuk mencoreng reputasi mereka dan untuk membatasi kegiatan mereka?
Dan, apa artinya keputusan itu bagi kebebasan beragama semua warga Rusia?

Ancaman yang Kian Meningkat Segera Ditanggapi
Pada Jumat, 26 Februari 2010, sekitar 160.000 Saksi Yehuwa di seluruh Rusia mulai menyebarkan 12 juta lembar risalah khusus yang, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berjudul " Mungkinkah Ini Terulang Kembali? Pertanyaan untuk Warga Rusia".

Di kota Usol’yeSibirskoye di Siberia, misalnya, ratusan Saksi berkumpul di jalan-jalan pada pukul 05.30 pagi. Di antara mereka ada juga yang pernah diasingkan ke Siberia pada 1951 karena iman. Mereka tidak gentar menghadapi suhu sedingin minus-40 derajat Celcius untuk menyebarkan 20.000 risalah.

Guna mengumumkan kampanye tiga hari itu, Saksi-Saksi Yehuwa mengadakan konferensi pers di Moskwa, ibu kota Rusia. Salah satu pembicara yang diundang adalah Tn. Lev Levinson, seorang pakar dari Lembaga Hak Asasi Manusia.
Ia dengan singkat menceritakan rongrongan dan penganiayaan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman Nazi serta Uni Soviet dan bahwa belakangan para Saksi secara resmi dinya- takan bebas murni.
Ia juga mengatakan, ”Semua agama yang ditindas selama era Soviet mendapatkan kembali nama baik mereka berdasarkan dekret Presiden Yeltsin. Dan, segala milik mereka dikembalikan. Saksi-Saksi Yehuwa tidak mempunyai properti tertentu di bawah pemerintahan Uni Soviet, tetapi mereka mendapatkan kembali nama baik mereka.”

Nama baik itu sekali lagi terancam.
”Justru di negeri yang telah menyatakan penyesalannya,” kata Tn. Levinson, ”orang-orang ini dianiaya, sama sekali tanpa alasan.”




Kampanye Itu Disambut Baik

Apakah kampanye penyebaran risalah itu mencapai tujuannya? Tn. Levinson mengatakan, ”Dalam perjalanan ke konferensi [pers] ini, saya melihat orang-orang di kereta api duduk dan membaca selebaran kecil yang disebarkan Saksi- Saksi Yehuwa di seluruh Rusia hari ini. . . . Mereka duduk dan membacanya, dan dengan penuh perhatian.”* Simaklah beberapa pengalaman berikut.

Seorang wanita lansia di bagian tengah Rusia, yang mayoritas penduduknya Muslim, menerima sebuah risalah dan bertanya tentang isinya. Ketika diberi tahu bahwa risalah itu membahas tentang hak asasi dan kebebasan di Rusia, ia berseru, ”Akhirnya, ada yang bicara tentang masalah ini! Memang, Rusia sedang mundur lagi ke zaman Uni Soviet. Terima kasih, ya. Bagus sekali!”

Seorang wanita di Chelyabinsk yang ditawari risalah mengatakan, ”Saya sudah dapat satu dan sudah membacanya. Saya setuju sekali dengan kalian. Rasanya, tidak ada agama lain yang membela imannya dengan begitu teratur. Saya suka kalian karena selalu rapi dan santun. Jelas kalian memegang teguh keyakinan kalian. Saya rasa, Tuhan menyertai kalian.”

Di St. Petersburg, seorang pria mengatakan sudah menerima risalah itu. Ketika ditanya pendapatnya, ia menjawab bahwa ia menyukainya, dan mengatakan, ”Saya merinding, bahkan menangis, sewaktu membacanya. Nenek saya mengalami penindasan [pada era Soviet] dan banyak bercerita tentang orang-orang yang dipenjarakan bersamanya. Banyak yang memang penjahat, tapi ada juga orang-orang tak bersalah yang dipenjarakan karena iman mereka. Menurut saya, setiap orang perlu tahu apa yang terjadi. Apa yang kalian lakukan ini benar.”



Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Saksi-Saksi Yehuwa menghargai kebebasan yang mereka nikmati di Rusia selama dua puluh tahun terakhir ini. Tetapi, mereka tahu betul betapa mudahnya kebebasan tersebut bisa dirampas. Apakah serangan fitnah terhadap mereka baru-baru ini menunjukkan bahwa Rusia akan kembali ke masa penindasan yang kelam? Kita hanya bisa menunggu.

Tetapi apa pun yang terjadi, Saksi-Saksi Yehuwa bertekad bulat untuk terus melakukan pekerjaan mereka, yaitu menyampaikan berita Alkitab tentang perdamaian dan harapan.
Risalah khusus itu menyatakan tekad mereka, ”Penindasan tidak akan pernah berhasil. Kami akan terus berbicara dengan bijaksana dan penuh respek tentang Allah Yehuwa dan Firman-Nya, Alkitab. (1 Petrus 3:15)
Kami tidak berhenti ketika menghadapi kengerian di Jerman Nazi, kami tidak berhenti ketika mengalami hari-hari penindasan yang paling gelap di negeri ini, dan sekarang pun kami tidak akan berhenti.
—Kisah 4:18-20.”

* Beberapa jam sebelum konferensi pers itu, Saksi-Saksi Yehuwa di Moskwa sudah mulai menyebarkan risalah itu.


--------
Diambil dari:
majalah-menara-pengawal, mei 2011
Umat yang Suka Damai MEMBELA NAMA BAIK MEREKA
Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

Publikasi-publikasi ini tidak diperjualbelikan, dan disediakan sebagai bagian dari pekerjaan pendidikan rohani sedunia. Anda dapat memilikinya secara CUMA-CUMA dalam bentuk cetakan-berwarna, format-pdf, atau dibaca-online

Untuk mengetahui lebih banyak nasihat Alkitab yang praktis, silakan hubungi Saksi-Saksi Yehuwa di daerah Anda. Atau, Anda dapat menulis ke alamat yang cocok atau mengunjungi situs resmi kami http://www.watchtower.org/


SEBUAH PERCAKAPAN SINGKAT

Apakah Yesus Itu Allah?


 SAKSI-SAKSI YEHUWA senang membahas Alkitab dengan orang lain. Adakah suatu topik Alkitab yang belum jelas bagi Anda? Apakah Anda ingin mengetahui kepercayaan dan ibadat Saksi-Saksi Yehuwa? Kalau begitu, kali berikut Anda bertemu dengan Saksi, jangan ragu untuk menanyakannya. Ia akan senang membahasnya dengan Anda.
--------------

 Biasanya seperti inilah percakapannya. Katakanlah Saksi bernama Karen mendatangi rumah seorang wanita bernama Laura.

Benarkah Saksi Yehuwa Tidak Percaya kepada Yesus?

Laura: Kata pastor saya, Saksi Yehuwa tidak percaya kepada Yesus. Apa benar?
Karen: Sebenarnya, kami percaya kepada Yesus. Malah, kami percaya bahwa kita harus beriman kepada Yesus agar selamat.
Laura: Saya percaya itu juga.
Karen: Kalau begitu, kita sama. Ngomong- ngomong, nama saya Karen.
Laura: Saya Laura.
Karen: Senang bisa berkenalan. Mungkin, Laura ingin tahu, ’Kalau Saksi Yehuwa memang percaya kepada Yesus, kenapa orang-orang mengatakan yang sebaliknya?’
Laura: Iya, kenapa tuh?
Karen: Singkatnya, kami sangat beriman kepada Yesus, tapi kami tidak percaya semua yang dikatakan orang tentang dia.
Laura: Misalnya apa?
Karen: Ya, ada yang bilang bahwa Yesus itu sekadar orang baik. Kami tidak setuju dengan itu.
Laura: Saya juga tidak setuju.
Karen: Nah, kalau begitu, dalam hal ini kita juga sama. Contoh lain, Saksi Yehuwa tidak menyetujui ajaran yang bertentangan dengan kata-kata Yesus sendiri tentang hubungan dia dan Bapaknya.
Laura: Maksudnya?
Karen: Banyak agama mengajarkan bahwa Yesus itu Allah. Mungkin itu juga yang pernah Laura dengar.
Laura: Betul, pastor saya bilang Allah dan Yesus itu sama.
Karen: Oh, begitu. Tapi, setuju tidak, bahwa untuk tahu yang benar tentang Yesus, kita harus memeriksa kata-kata Yesus sendiri?
Laura: Ya, saya setuju.


Apa Kata Yesus?


Karen: Mari kita lihat sebuah ayat yang bisa membantu kita. Perhatikan kata-kata Yesus di Yohanes 6:38, yang berbunyi, ”Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendakku, melainkan kehendak dia yang mengutus aku.” Nah, kalau Yesus itu Allah, kata-kata ini akan sedikit membingungkan.
Laura: Maksudnya?
Karen: Perhatikan, Yesus turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak dia sendiri.
Laura: Benar, ia bilang ia datang untuk melakukan kehendak Dia yang mengutusnya.
Karen: Tapi, kalau Yesus itu Allah, siapa yang mengutus dia untuk turun dari surga? Dan, kenapa Yesus mau mematuhi Pribadi itu?
Laura: Iya ya, saya mulai mengerti. Tapi, saya belum yakin kalau hanya dari satu ayat ini.
Karen: Kalau begitu, perhatikan apa yang Yesus katakan di kesempatan lain. Ia membuat pernyataan serupa di pasal berikutnya. Boleh tolong bacakan Yohanes 7:16?
Laura: Boleh. ”Yesus menjawab mereka dengan mengatakan, ’Apa yang aku ajarkan bukanlah milikku, melainkan milik dia yang telah mengutus aku.’ ”
Karen: Terima kasih. Menurut ayat ini, apakah ajaran Yesus berasal dari pemikirannya sendiri?
Laura: Tidak, ajaran Yesus berasal dari Dia yang telah mengutusnya.
Karen: Betul. Nah, sekarang pertanyaannya, ’Siapa yang mengutus Yesus? Dan, dari siapa Yesus mendapatkan hal-hal yang ia ajarkan?’ Bukankah Pribadi itu lebih besar daripada Yesus? Biasanya, yang mengutus lebih tinggi daripada yang diutus.
Laura: Menarik juga, ya. Saya belum pernah baca ayat ini.
Karen: Simak juga kata-kata Yesus di Yohanes 14:28, ”Kamu telah mendengar bahwa aku mengatakan kepadamu: Aku akan pergi dan aku akan datang kembali kepadamu. Jika kamu mengasihi aku, kamu akan bersukacita bahwa aku akan pergi kepada Bapak, karena Bapak lebih besar daripada aku.” Menurut ayat ini, bagaimana Yesus memandang dirinya dibandingkan dengan Bapaknya?
Laura: Dikatakan ”Bapak lebih besar daripada aku”, berarti Yesus memandang Allah lebih tinggi.
Karen: Benar sekali. Contoh lain, perhatikan apa yang Yesus katakan kepada murid-muridnya di Matius 28:18. Di situ dikatakan, ”Semua wewenang di surga dan di bumi telah diberikan kepadaku.” Jadi, apakah menurut Yesus ia sudah memiliki semua wewenang itu sejak awal?
Laura: Tidak, ia mengatakan bahwa itu diberikan kepadanya.
Karen: Tapi, kalau Yesus itu Allah, bagaimana mungkin ia diberi lebih banyak wewenang? Dan, siapa yang memberikannya?
Laura: Wah, saya baru terpikir soal itu.


Kepada Siapa Ia Berbicara? 
Karen: Ada hal lain lagi yang agak membingungkan seandainya Yesus itu Allah. 
Laura: Apa itu? 
Karen: Kisah pembaptisan Yesus. Coba kita baca di Lukas 3:21, 22. Boleh tolong bacakan?
Laura: ”Sewaktu semua orang itu dibaptis, Yesus juga dibaptis dan, seraya ia berdoa, langit terbuka dan roh kudus dalam bentuk jasmani seperti seekor merpati turun ke atasnya, dan suatu suara keluar dari langit, ’Engkaulah Putraku, yang kukasihi; aku berkenan kepadamu.’ ”
Karen: Apa yang Yesus lakukan sewaktu ia dibaptis?
Laura: Ia berdoa.
Karen: Kalau begitu, kita jadi bertanya-tanya, ’Jika Yesus itu Allah, kepada siapa ia berdoa?’
Laura: Kepada siapa, ya? Wah, saya harus tanya pastor saya dulu.
Karen: Selain itu, setelah Yesus keluar dari air, ada Pribadi yang berbicara dari surga. Apa yang Ia katakan?
Laura: Yesus adalah Putra-Nya, Ia mengasihi Yesus, dan Ia berkenan kepadanya.
Karen: Benar. Tapi, jika Yesus adalah Allah, siapa yang berbicara dari surga?
Laura: Wah, saya belum pernah berpikir sampai ke situ.


Mengapa Disebut ”Bapak” dan ”Putra”?
Karen: Ada hal lain lagi yang bisa kita pertimbangkan: Kita membaca bahwa Yesus menyebut Allah sebagai Bapak surgawinya. Dan, sewaktu Yesus dibaptis, suatu suara dari surga menyebut Yesus sebagai Putra-Nya. Malah, Yesus jelas-jelas menyebut dirinya Putra Allah.
Nah, seandainya Laura mau membuktikan bahwa dua orang setara kedudukannya, ilustrasi apa tentang hubungan keluarga yang akan Laura gunakan?
Laura: Mungkin ilustrasi tentang dua bersaudara.
Karen: Persis—bahkan mungkin saudara kembar. Tapi, Yesus menyebut Allah sebagai Bapak dan dirinya sebagai Putra. Jadi, apa yang ingin Yesus gambarkan?
Laura: Ya, saya mengerti. Yesus menggambarkan bahwa pribadi yang satu lebih tua dan lebih berkuasa.
Karen: Tepat sekali. Coba pikirkan: Kita saja bisa membuat ilustrasi yang cocok mengenai kesetaraan, yaitu tentang dua bersaudara atau saudara kembar. Seandainya Yesus setara dengan Allah, bukankah ia, sebagai guru yang hebat, pasti akan menggunakan ilustrasi yang sama, atau bahkan yang lebih jelas lagi?
Laura: Iya, ya.
Karen: Tetapi, ia malah menggunakan istilah ”Bapak” dan ”Putra” untuk menggambarkan hubungan dia dengan Allah.
Laura: Menarik juga, ya.


Apa Kata Para Pengikut Yesus Masa Awal?

 Karen: Sebelum saya pergi, saya ingin membahas satu hal lagi, kalau Laura punya waktu.
Laura: Oh, ya, silakan.
Karen: Jika Yesus benar-benar Allah, murid-murid Yesus pasti akan mengatakannya, bukan?
Laura: Sepertinya begitu.
Karen: Tapi, tidak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa mereka mengajarkan hal itu. Sebaliknya, perhatikan apa yang ditulis oleh rasul Paulus, salah seorang pengikut Yesus masa awal. Di Filipi 2:9, ia menjelaskan apa yang Allah lakukan setelah kematian dan kebangkitan Yesus, ”Allah meninggikan dia [Yesus] kepada kedudukan yang lebih tinggi dan dengan baik hati memberinya nama di atas setiap nama lain.” Menurut ayat ini, apa yang Allah lakukan kepada Yesus?
Laura: Allah meninggikan dia kepada kedudukan yang lebih tinggi.
Karen: Ya. Tapi, kalau Yesus setara dengan Allah sebelum ia mati, dan belakangan Allah meninggikan dia kepada kedudukan yang lebih tinggi, berarti kedudukan Yesus menjadi lebih tinggi daripada Allah. Apakah ada yang bisa lebih tinggi daripada Allah?
Laura: Tidak ada. Itu mustahil.
Karen: Saya setuju. Jadi, berdasarkan semua bukti ini, apakah menurut Laura Alkitab mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah?
Laura: Kelihatannya tidak. Menurut Alkitab, dia Putra Allah.
Karen: Benar. Tapi yang pasti, Saksi Yehuwa sangat menghormati Yesus. Kami percaya bah- wa karena Yesus mati sebagai Mesias yang dijanjikan, semua orang yang beriman bisa selamat.
Laura: Saya juga percaya.
Karen: Kalau begitu, ada pertanyaan lain, ’Bagaimana caranya memperlihatkan rasa syukur karena ia telah mati bagi kita?’ ##
Laura: Ya, saya ingin tahu juga.
Karen: Mungkin saya bisa datang lagi dan membahas jawabannya dari Alkitab. Apakah kita bisa bertemu lagi minggu depan?
Laura: Boleh, saya ada di rumah.
Karen: Kalau begitu, sampai jumpa yaa.

##  Untuk keterangan lebih lanjut, lihat pasal 5 buku "Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan?"



------------------------
Diambil dari:
Majalah-MENARA-PENGAWAL , april 2012 , 
Rata-rata Pencetakan : 42.182.000 dalam 194 Bahasa
Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa

Bahkan dalam dunia yang penuh kesukaran ini, Anda dapat memperoleh kebahagiaan dari pengetahuan Alkitab yang saksama tentang Allah, Kerajaan-Nya, dan maksud-tujuanNya yang menakjubkan bagi umat manusia. 
 Jika Anda ingin menerima penjelasan lebih lanjut atau mendapatkan pelajaran Alkitab secara cuma-cuma, silakan tulis surat kepada Saksi-Saksi Yehuwa, PO Box 2105, Jakarta 10001. Atau, Anda dapat menulis ke alamat yang cocok http://www.watchtower.org/address/article_01.htm atau mengunjungi situs resmi kami http://www.watchtower.org/

Publikasi ini tidak diperjualbelikan, dan disediakan sebagai bagian dari pekerjaan pendidikan rohani sedunia. Anda dapat memperolehnya CUMA-CUMA dalam bentuk cetakan-berwarna, format-pdf, atau dibaca-online
Dapatkah Allah yang Benar Ditemukan?


- Sepanjang sejarah, banyak orang mencari Allah yang benar. Pencarian itu telah membawa mereka ke banyak jalan, sebagaimana dibuktikan oleh keanekaragaman agama, sekte, dan kultus di dunia dewasa ini. Tetapi, bagaimana Anda dapat menemukan Allah yang benar?

Buku "Pencarian Manusia akan Allah" dapat membantu Anda.
Seorang penulis terkenal di Meksiko menyatakan, ”Dibanding kebanyakan buku, buku ini kecil, tetapi yang luar biasa hebat adalah isinya. Buku ini dapat ditaruh di saku seseorang, tetapi jika buku ini terdapat di sebuah perpustakaan yang berkapasitas 90.000 buku, kemungkinan ini adalah buku paling penting dari semua buku lainnya.”

Anda bisa meminta buku setebal 384 halaman ini dengan mengisi kupon terlampir dan mengirimkannya ke alamat yang cocok yang tertera di halaman majalah ini. Atau, Anda dapat menulis ke alamat yang cocok http://www.watchtower.org/address/article_01.htm atau mengunjungi situs resmi kami http://www.watchtower.org/

----------------
Diambil dari:
Majalah -SEDARLAH! , april 2012
Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa

Bahkan dalam dunia yang penuh kesukaran ini, Anda dapat memperoleh kebahagiaan dari pengetahuan Alkitab yang saksama tentang Allah, Kerajaan-Nya, dan maksud-tujuanNya yang menakjubkan bagi umat manusia.
Jika Anda ingin menerima penjelasan lebih lanjut atau silakan tulis surat kepada Saksi-Saksi Yehuwa, PO Box 2105, Jakarta 10001

Publikasi ini tidak diperjualbelikan, dan disediakan sebagai bagian dari pekerjaan pendidikan rohani sedunia. Anda dapat memperolehnya CUMA-CUMA dalam bentuk cetakan-berwarna, format-pdf, atau dibaca-online